A. JUDUL
PEMBELAJARAN DAN PENERAPAN PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) PADA ANAK SEKOLAH MELALUI MEDIA LAGU DOLANAN JAWA (Penerapan di SD Negeri Tambakboyo 03, Desa Tambakboyo RT 03 / RW III, Kal. Tambakboho, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo)
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, sekolah, tempat-tempat umum, tempat kerja, dan institusi kesehatan (www.dinkessulsel.go.id).
PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat.(http://sdngesrep.blogspot.com). Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :
1. Membuang sampah pada tempatnya
2. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
3. Jangan jajan sembarangan
4. Olahraga yang teratur dan terukur
5. Tidak merokok di area sekolah
6. Memberantas jentik nyamuk satu minggu sekali
7. BAK dan BAB di jamban yang bersih dan sehat
8. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
Dengan menerapkan PHBS di sekolah oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah, maka citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua serta meningkatkan citra pemerintah daerah di bidang pendidikan dan menjadi percontohan sekolah sehat bagi sekolah di daerah lain. (http://puskesmasbatuputihberau.wordpress.com).
Sekolah sebagai salah satu sasaran PHBS di tatanan institusi pendidikan perlu mendapatkan perhatian mengingat usia sekolah bagi anak juga merupakan masa rawan munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10), misalnya diare, kecacingan dan anemia. Dampak lain dari kurang dilaksanakan PHBS diantaranya yaitu suasana belajar yang tidak mendukung karena lingkungan sekolah yang kotor, menurunkan semangat dan prestasi belajar mengajar di sekolah serta menurunkan citra sekolah di masyarakat umum. Berdasarkan data WHO (2007) menyebut bahwa setiap tahun 100.000 anak Indonesia meninggal akibat diare (www.dinkes.jabar.go.id), angka kejadian kecacingan mencapai angka 40-60% (Depkes, 2005), anemia pada anak sekolah 23,2% (YKB, 2007) dan masalah karies dan periodontal 74,4% (SKRT, 2001).
Penyebab rendahnya pelaksanaan PHBS dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor perilaku dan non perilaku fisik, sosial ekonomi dan sebagainya. Oleh sebab itu peningkatan masalah kesehatan tersebut harus ditujukan kepada dua faktor tersebut. Banyak hal lain yang menjadi penyebab menurunnya pelaksanaan PHBS di sekolah seperti faktor tehnis, faktor geografi, sosial ekonomi, serta kurangnya upaya promotif tentang kesehatan khususnya mengenai PHBS dari puskesmas dan instansi kesehatan lain seperti puskesmas (skripsi kesehatan masyarakat). Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah ruang UKS yang hanya digunakan untuk tempat istirahat orang sakit tanpa menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, padahal hal tersebut menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Berkaitan dengan keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa kesehatan pada usia sekolah sangat perlu diperhatikan, karena anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Selain itu, jumlah usia sekolah yang cukup besar yaitu 30 % dari jumlah penduduk Indonesia merupakan masa keemasan untuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Hal tersebut sangat disayangkan bahwa anak-anak yang seharusnya sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS cenderung tidak mengetahui tentang PHBS dan hal tersebut harus segera diatasi demi Indonesia sehat.
Atas dasar itu perlu adanya suatu gagasan untuk membantu memecahkan masalah tersebut, yaitu melalui sebuah proses pembelajaran PHBS yang praktis untuk diterapkan pada anak sekolah. Selain itu upaya penerapan PHBS di lingkungan sekolah harus dilaksanakan sebaik mungkin. Karena anak sekolah adalah anak usia bermain maka anak dirasa lebih mudah untuk diberikan pembelajaran PHBS melalui sebuah lagu dan permainan. Media lagu yang digunakan ialah lagu dolanan jawa yang liriknya sudah diganti sesuai makna PHBS dan indikator PHBS di lingkungan sekolah yang akan diajarkan di area outdoor agar siswa tidak jenuh untuk menerima pembelajaran tersebut.
Setelah proses pembelajaran PHBS selesai dan berpredikat lulus maka kegiatan selanjutnya yaitu penerapan PHBS di lingkungan sekolah. Hal tersebut bertujuan agar proses pembelajaran yang diberikan tidak hanya hafal dan paham mengenai lagu dolanan PHBS tetapi juga dapat merubah kearah perilakunya.
Media pembelajaran dengan lagu dolanan jawa tersebut memiliki kelebihan bahwa lagu dolanan jawa akan menarik peserta didik. Melalui seni, seseorang lebih sensitif terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya. (apresiasi tembang dolanan jawa tengah, arif wahyudi, 11 agustus 2012). Lagu dolanan Jawa merupakan sarana untuk bersenang-senang dalam mengisi waktu luang dan juga sebagai sarana komunikasi yang mengandung pesan mendidik. Menurut Riyadi (dalam Djaka Lodang, 5 Agustus 1989) memerinci sifat lagu dolanan jawa yaitu bersifat didaktis dan sosial. Didaktis artinya lagu dolanan itu mengandung unsur pendidikan, baik yang disampaikan secara langsung dalam lirik lagu atau disampaikan secara tersirat, dengan berbagai perumpamaan atau analogi. Salah satu keahlian orang Jawa adalah membuat berbagai ajaran dengan berbagai perumpamaan. Sosial artinya bahwa lagu dolanan memiliki potensi untuk menjalin hubungan sosial anak dan menumbuhkan sifat-sifat sosial.
Pada dasarnya lagu dolanan anak bersifat unik. Artinya, berbeda dengan bentuk lagu/tembang Jawa yang lain. Menurut Danandjaja (1985:19) lagu dolanan anak ada yang termasuk lisan Jawa, yaitu tergolong nyanyian rakyat. Sarwono dkk (1995: 5) menjelaskan bahwa lagu dolanan memiliki aturan, yaitu
1. bahasa sederhana,
2. cengkok sederhana,
3. jumlah baris terbatas,
4. berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak.
Meskipun lirik lagu dolanan jawa sudah diganti dengan lirik makna PHBS dan indikator PHBS di lingkungan sekolah, namun lagu tersebut dapat digunakan untuk melestarikan lagu dolanan jawa yang saat ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait. Selain itu, lirik yang diajarkan juga memiliki nilai pengetahuan mengenai PHBS secara jelas.
C. PERUMUSAN MASALAH
Bardasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam kegiatan ini adalah :
D. TUJUAN
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka kegiatan PKM-M ini memiliki tujuan sebagai berikut :
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
F. KEGUNAAN
Kegunaan dari kegiatan PKM-M ini adalah :
G. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
1. Kondisi Masyarakat Sasaran
SD Negeri Tambakboyo 03 yang terletak di pinggiran kabupaten Sukoharjo tepatnya di Desa Tambakboyo RT 03/III, Kal. Tambakboho, Kec Tawangsari, Kab Sukoharjo merupakan sekolah yang memiliki kelebihan dibidang kreatifatas mengolah barang-barang bekas. Sudah beberapa kali masuk koran karena menjuarai berbagai macam lomba sekolah kreatif. Kerena Visi dari SD tersebut adalah “Kreatif, Komptetitif, dan Unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa “. Visi sekolah yang hanya mengunggulkan kreatifitas saja dirasa tidak cukup, karena kondisi kebersihan atau PHBS di sekolah kurang maksimal. Hal tersebut terjadi karena kondisi ekonomi dari orang tua siswa yang hanya bekerja sebagai buruh, sehingga fasilitas penunjang kebersihan atau PHBS di lingkungan sekolah tidak mencukupi. Berdasar hasil data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa sebanyak 99 % orang tua siswa bekerja sebagai buruh dan sisanya satu siswa yang orang tuanya bekerja sebagai Polisi. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya PHBS di SD N Tambakboyo 03 adalah rendahnya pengetahuan PHBS di lingkungan sekolah, data tersebut kami dapatkan dari wawancara langsung dengan ibu Dra. Tri Hastuti beliau adalah Kepala Sekolah SD Negeri Tambakboyo 03. Saat kami bertanya “Apakah Ibu mengerti tentang PHBS di lingkungan Sekolah?”, beliau menjawab “Apa PHBS itu, saya kurang paham???”. Dari jawaban tersebut sudah terlihat bahwa pengetahuan tentang PHBS sangat minim, sehingga wajar saja kalau penanaman perilaku indikator PHBS di lingkungan sekolah tersebut kurang maksimal.
SD Negeri Tambakboyo 03 memiliki bangunan gedung yang sudah layak sebagai sekolahan meskipun tidak ada bangunan UKS secara tersendiri. Kondisi penghijauan sudah cukup karena berada di pinggiran desa, sehingga pepohonan masih banyak ditemui. Kondisi lain yang dapat dijelaskan diantaranya : ketersediaan tempat sampah di setiap ruangan meskipun hanya menggunakan ember plastik namun belum ada pemisahan atara sampah organik dan sampah anorganik; tersedian sebanyak 3 ruang untuk toilet meskipun keadaanya kurang maksimal karena kurangnya ventilasi udara sehingga toilet dalam keadaan lembab dan pengap; belum tersediannya tempat cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun; ruang UKS juga belum tersedia sehingga penempatan orang sakit hanya di istirahatkan di mushola atau ruangan lainnya, UKS yang berpindah-pindah tempat dan pelayanan UKS yang hanya menyediakan tempat untuk orang sakit tanpa menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, padahal hal tersebut menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang maksimal. Selain itu, larangan merokok di lingkungan sekolah dan larangan jajan di sembarang tempat belum ada dan belum diterapkan di sekolah tersebut.
SD Negeri Tambakboyo 03 mempunyai jumlah sebanyak 69 siswa, dengan perincian, kelas I sebanyak 18 siswa, kelas II sebanyak 12 siswa, kelas III sebanyak 10 siswa, kelas IV sebanyak 10 siswa, kelas V sebanyak 12 siswa dan kelas VI sebanyak 7 siswa, dengan guru yang berjumlah 13 orang dan 7 orang guru yang sudah menjadi PNS. Berdasar hasil data yang kami kumpulkan dari siswa SD Negeri Tambakboyo 03, sejumlah 85 % anak-anak kurang sekali pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Apalagi pembelajaran PHBS sejak dini tidak diajarkann dalam mata pelajaran IPA atau Olahraga. Ditambah dengan kurangnya perhatian khusus pada siswa oleh tenaga pengajar tentang bagaimana siswa berperilaku di luar kelas atau di luar jam belajar perihal bagaimana mereka jajan, membuang sampah, cuci tangan, dan perilaku hidup bersih dan sehat lainnya. Oleh karena itu banyak siswa yang sering sakit dan tidak masuk sekolah dikarenakan kurangnya penyuluhan, pengawasan dan pendidikan mengenai PHBS dari pihak sekolah ataupun dari pihak instansi kesehatan terkait.
2. Solusi yang ditawarkan
Atas dasar itu perlu adanya suatu gagasan untuk membantu memecahkan masalah tersebut, yaitu melalui sebuah proses pembelajaran PHBS yang praktis untuk diterapkan pada anak sekolah yang selanjutnya melaksanakan penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah. Upaya penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah harus dilaksanakan sebaik mungkin dan berusaha menyediakan beberapa fasilitas penunjang PHBS yang belum tersedia di lingkungan sekolah tersebut. Karena anak sekolah adalah anak usia bermain maka anak dirasa lebih mudah untuk diberikan pembelajaran PHBS melalui sebuah lagu dan permainan yang diajarkan di area outdoor agar siswa tidak jenuh untuk menerima pembelajaran tersebut. Media lagu yang digunakan ialah lagu dolanan jawa yang familiar dan dapat dengan mudah dihafalkan oleh anak-anak. Lirik lagu dolanan tersebut disajikan dalam bahasa jawa dan sebagian menggunakan bahasa Indonesia. Terdiri dari 9 lagu yang menunjukkan 9 indikator, adapun pada indikator 1 yaitu pengertian PHBS dan indikator lainnya menunjukkan 8 penerapan PHBS di lingkungan sekolah dan lagu-lagu tersebut kami kemas sebagai berikut :
1. Indikator I : Pengertian PHBS menggunakan lagu “Gambang Suling”.
PHBS iku singkatane
Tindak tanduk urip resik sehat
u…u..u..u..unine mung
Nerangake bab kesehatan…e
Kanggo urip ora gampang loro
2. Indikator II : Membuang sampah pada tempatnya menggunakan lagu “cublak-cublak suweng”.
Sampah-sampah reget,, regete di resiki,,
Ayo podo ngewaki,,Jo di buang ono kali,,
Dibuang nyang panggone,,
Yo ayo diresiki, yo ayo diresiki…
3. Indikator III : Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun menggunakan lagu “padhang bulan”.
Yo kanca tindakno karesikan,
Wijiko sakdurunge do mangan,
Nganggo sabun lan banyune resik,
Supaya awake ora kena lelara…
4. Indikator IV : Jangan jajan sembarangan menggunakan lagu “suwe ora jamu”.
Kanca do rungokno, aja waton jajan
kudu digatekke karesikane panggonan,
mula aja dumeh, padha seneng jajan,
banjur ora digagas awak lan kesehatane…
5. Indikator V : Olahraga teratur dan terukur menggunakan lagu “kidang talun”.
Olahraga, saben minggu, kanca,
Kang teratur, lan terukur,
Supaya kasarasane kejaga...
6. Indikator VI : Tidak merokok di area sekolah menggunakan lagu “gundhul-gundhul pacul”.
Yen kepingin sehat mas..
Ojo podho ngrokok.
Opo maneh papane sekolahan,
Akeh mala ing sak jeroning rokokan,
Ayo podho dijaga paru-parune..
7. Indikator VII : Memberantas jentik-jentik nyamuk satu minggu sekali menggunakan lagu “menthog-menthog”.
Kanca-kanca do mrenea, melu aku
Mbrantas sarang nyamuk,
Seminggu sepisan nguras bak mandine,
Nutup wadah banyu, mbuang barang bekas…
8. Indikator IX : Buang air kecil dan buang air besar di jamban yang bersih dan sehat menggunakan lagu “Jamuran”
Yo konco yo konco
Ojo nganti, buang hajat ono kali
WC kudu diresiki
Ojo nganti dijarke
9. Indikator X : Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan menggunakan lagu “jaranan”.
Konco kabeh ojo lali saben 6 wulan pisan,
Timbang bobot awake lan di ukur dhuwure;
Ben iso ngerteni tingkat pertumbuhane,
Jo lali, jo lali, yo konco ojo lali..
H. METODE PELAKSANAAN
1. Alur pelaksanaan kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu ada dua : tahap pertama pembelajaran PHBS dan tahapan kedua penerapan PHBS. Tahap pertama akan dilaksanakan pembelajaran 9 indikator dengan media lagu dolanan jawa yang liriknya sudah diganti. Pembelajaran PHBS dilaksanakan oleh pengajar beserta peserta didik kelas 4, kelas 5, dan 1 guru pembimbing. Pembelajaran pada usia dini kelas 4 dan 5 karena mereka dirasa mampu untuk mengajarkan PHBS pada siswa lainnya. Selain itu, bertujuan untuk memaksimalkan waktu proses pembelajaran PHBS. Setiap 1 indikator yang sudah selesai diajarkan maka akan ada evaluasi akhir dengan menghafal indikator 1 yang sudah dipelajari sebelumnya, indikator 2 akan ada evaluasi akhir tujuan dengan menghafal indikator 1 dan 2, indikator 3 akan ada evaluasi akhir dengan menghafal indikator 1, 2 dan 3 dan seterusnya. Bagi peserta didik yang belum lulus pada evaluasi akhir tiap indikator akan mengulang di pembelajaran berikutnya. Untuk pembelajaran terakhir dilaksanakan setelah pembelajaran indikator ke-9, yaitu dengan evaluasi random (evaluasi acak) pada peserta didik yang telah mengikuti pembelajaran seluruhnya. Pengajar akan memilih 9 peserta didik secara acak agar masing-masing peserta didik menghafal lagu dolanan dan menceritakan makna dari lagu yang sudah mereka hafalkan. Hal ini agar peserta didik tidak hanya hafal namun mereka juga mengerti maksud dari lagu dolanan PHBS tersebut. Setelah evaluasi random selesai maka pengajar akan memberikan sertifikat bagi peserta didik yang sudah lulus pembelajaran PHBS dengan media lagu dolanan Jawa.
Pengajar atau tutor akan memutarkan lagu dolanan PHBS dan menjelaskan makna dari lagu dolanan PHBS tersebut. Selanjutnya pengajar dan peseta didik bernyanyi bersama dengan gerak lincah permainan. Metode bermain sambil belajar bertujuan agar peserta didik tidak cepat bosan dan untuk mempermudah peserta didik menerima pembelajaran PHBS. Pembelajaran dilakukan di area outdoor pada jam ekstrakurikuler.
Setelah tahap pembelajaran selesai, maka dilaksanakan tahap selanjutnya yaitu penerapan PHBS. Pelaksanaan penerapan indikator PHBS dilakukan oleh semua pihak sekolah. Penerapan PHBS diantaranya : menempelkan pamflet tentang PHBS di tatanan sekolah, membersihkan sampah sekolah dengan pemisahan sampah organik dan anorganik, membiasakan cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas dengan menggunakan air mengalir dan dengan menggunakan sabun, olahraga bersama-sama, menempelkan tulisan “area bebas rokok” dan tulisan “dilarang merokok” di setiap dinding utama, membersihkan kamar mandi dan pemberian abate pada bak kamar mandi dan tempat penampungan air lainnya, mengukur tinggi badan dan berat badan. Setiap pelaksanaan penerapan PHBS yang belum maksimal atau belum lulus akan diulangi lagi di pertemuan selanjunya sampai lulus. Indikator keberhasilan di ukur dari tingkat perubahan perilaku dan keadaan kebersihan lingkungan sekolah yang lebih baik dari sebelumnya dengan pembuktian foto. Jika tahapan telah selesai maka tim kami sebagai tutor akan memberikan kenang-kenangan pada sekolah tersebut. Berikut ini gambaran alur pelaksanaan pembelajaran dan penerapan PHBS di lingkungan sekolah :
2. Skenario proses pembelajaran bimbingan dan penerapan PHBS
Kegiatan Pembelajaran PHBS No Kegiatan Kegiatan Tutor Metode Waktu
Kegiatan Penerapan PHBS No Kegiatan Kegiatan Tutor Metode Waktu
I. JADWAL KEGIATAN
Adapun jadwal kegiatan pembelajaran dan penerapan PHBS dapat dilihat dalam diagram Bar-Chart dibawah ini :
Kegiatan Bulan ke
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5
1. Persiapan
2. Pelaksanaan Pembelajaran PHBS
a. Perkenalan
b. Indikator 1 & evaluasi 1
c. Indikator 2 & evaluasi 1, 2
d. Indikator 3 & evaluasi 1,2,3
e. Indikator 4 & evaluasi 1,2,3,4
f. Indikator 5 & evaluasi 1,2,3,4,5
g. Indikator 6 & evaluasi 1,2,3,4,5,6
h. Indikator 7 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7
i. Indikator 8 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7,8
j. Indikator 9 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7,8,9
k. Evaluasi Random & penyerahan sertifikat bagi siswa yang lulus evaluasi.
3. Penerapan PHBS
a. Penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah
b. Evaluasi keadaan lingkungan sekolah
c. Penyerahan kenang-kenangan pada pihak sekolah
4. Penyusunan Laporan
5. Seminar
6. Penggandaan dan Pengiriman Laporan
J. RANCANGAN BIAYA
Bahan Habis Pakai
No Jenis Kebutuhan Banyak Harga Satuan Jumlah
1 Konsumsi :
2 Cetak buku/modul
3 CD lagu dolanan jawa mengenai PHBS 1 buah @ Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00
4 Penggandaaan CD lagu dolanan jawa
5 Pembuatan surat keterangan belajar (sertifikat kelulusan) @ 1 buah x 20 siswa @ Rp. 10.000,00 Rp. 200.000,00
6 Vandel 1 buah @ Rp. 60.000,00 Rp. 60.000,00
Jumlah Rp. 6.410.000,00
Peralatan Penunjang PKM-M
No Jenis Kebutuhan Banyak Harga Satuan Jumlah
1. Sewa Kamera Rp. 200.000,00
2. Sewa Handycam Rp. 500.000,00
Jumlah Rp. 700.000,00
Perjalanan
Macam Perjalanan Keperluan Jumlah Orang Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
Lokal Sukoharjo Persiapan 3 orang 3 kali Rp. 20.000,00 Rp. 180.000,00
Pelaksanaan bimbingan 3 orang 24 kali Rp. 20.000,00 Rp. 1.440.000,00
Jumlah Rp. 1.620.000,00
Lain-lain
No Jenis Kegiatan Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
1. Pembuatan laporan 15 eksemplar Rp. 30.000,00 Rp. 450.000,00
2. Rapat/diskusi 5 kali Rp. 40.000,00 Rp. 200.000,00
3. Seminar 1 kali Rp. 350.000,00
4. Publikasi 1 judul Rp. 250.000,00 Rp. 250.000,00
Jumlah Rp. 1.250.000,00
Rekapitulasi Rincian Biaya Penelitian :
1. Bahan Habis Pakai Rp. 6.410.000,00
2. Peralatan Penunjang PKM-M Rp. 700.000,00
3. Perjalanan Rp. 1.620.000,00
4. Lain-lain Rp. 1.250.000,00 +
Total Rp. 9.980.000,00
Total biaya yaitu Sembilan juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah.
PEMBELAJARAN DAN PENERAPAN PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) PADA ANAK SEKOLAH MELALUI MEDIA LAGU DOLANAN JAWA (Penerapan di SD Negeri Tambakboyo 03, Desa Tambakboyo RT 03 / RW III, Kal. Tambakboho, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo)
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Dalam Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1114/Menkes/SK/VIII/2005 tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, sekolah, tempat-tempat umum, tempat kerja, dan institusi kesehatan (www.dinkessulsel.go.id).
PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sekolah sehat.(http://sdngesrep.blogspot.com). Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di sekolah yaitu :
1. Membuang sampah pada tempatnya
2. Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun
3. Jangan jajan sembarangan
4. Olahraga yang teratur dan terukur
5. Tidak merokok di area sekolah
6. Memberantas jentik nyamuk satu minggu sekali
7. BAK dan BAB di jamban yang bersih dan sehat
8. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
Dengan menerapkan PHBS di sekolah oleh peserta didik, guru dan masyarakat lingkungan sekolah, maka citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua serta meningkatkan citra pemerintah daerah di bidang pendidikan dan menjadi percontohan sekolah sehat bagi sekolah di daerah lain. (http://puskesmasbatuputihberau.wordpress.com).
Sekolah sebagai salah satu sasaran PHBS di tatanan institusi pendidikan perlu mendapatkan perhatian mengingat usia sekolah bagi anak juga merupakan masa rawan munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6-10), misalnya diare, kecacingan dan anemia. Dampak lain dari kurang dilaksanakan PHBS diantaranya yaitu suasana belajar yang tidak mendukung karena lingkungan sekolah yang kotor, menurunkan semangat dan prestasi belajar mengajar di sekolah serta menurunkan citra sekolah di masyarakat umum. Berdasarkan data WHO (2007) menyebut bahwa setiap tahun 100.000 anak Indonesia meninggal akibat diare (www.dinkes.jabar.go.id), angka kejadian kecacingan mencapai angka 40-60% (Depkes, 2005), anemia pada anak sekolah 23,2% (YKB, 2007) dan masalah karies dan periodontal 74,4% (SKRT, 2001).
Penyebab rendahnya pelaksanaan PHBS dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor perilaku dan non perilaku fisik, sosial ekonomi dan sebagainya. Oleh sebab itu peningkatan masalah kesehatan tersebut harus ditujukan kepada dua faktor tersebut. Banyak hal lain yang menjadi penyebab menurunnya pelaksanaan PHBS di sekolah seperti faktor tehnis, faktor geografi, sosial ekonomi, serta kurangnya upaya promotif tentang kesehatan khususnya mengenai PHBS dari puskesmas dan instansi kesehatan lain seperti puskesmas (skripsi kesehatan masyarakat). Faktor lain yang juga sangat berpengaruh adalah ruang UKS yang hanya digunakan untuk tempat istirahat orang sakit tanpa menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, padahal hal tersebut menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Berkaitan dengan keterangan di atas, bisa diambil kesimpulan bahwa kesehatan pada usia sekolah sangat perlu diperhatikan, karena anak sekolah merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dijaga, ditingkatkan dan dilindungi kesehatannya. Selain itu, jumlah usia sekolah yang cukup besar yaitu 30 % dari jumlah penduduk Indonesia merupakan masa keemasan untuk menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Hal tersebut sangat disayangkan bahwa anak-anak yang seharusnya sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS cenderung tidak mengetahui tentang PHBS dan hal tersebut harus segera diatasi demi Indonesia sehat.
Atas dasar itu perlu adanya suatu gagasan untuk membantu memecahkan masalah tersebut, yaitu melalui sebuah proses pembelajaran PHBS yang praktis untuk diterapkan pada anak sekolah. Selain itu upaya penerapan PHBS di lingkungan sekolah harus dilaksanakan sebaik mungkin. Karena anak sekolah adalah anak usia bermain maka anak dirasa lebih mudah untuk diberikan pembelajaran PHBS melalui sebuah lagu dan permainan. Media lagu yang digunakan ialah lagu dolanan jawa yang liriknya sudah diganti sesuai makna PHBS dan indikator PHBS di lingkungan sekolah yang akan diajarkan di area outdoor agar siswa tidak jenuh untuk menerima pembelajaran tersebut.
Setelah proses pembelajaran PHBS selesai dan berpredikat lulus maka kegiatan selanjutnya yaitu penerapan PHBS di lingkungan sekolah. Hal tersebut bertujuan agar proses pembelajaran yang diberikan tidak hanya hafal dan paham mengenai lagu dolanan PHBS tetapi juga dapat merubah kearah perilakunya.
Media pembelajaran dengan lagu dolanan jawa tersebut memiliki kelebihan bahwa lagu dolanan jawa akan menarik peserta didik. Melalui seni, seseorang lebih sensitif terhadap keadaan lingkungan di sekitarnya. (apresiasi tembang dolanan jawa tengah, arif wahyudi, 11 agustus 2012). Lagu dolanan Jawa merupakan sarana untuk bersenang-senang dalam mengisi waktu luang dan juga sebagai sarana komunikasi yang mengandung pesan mendidik. Menurut Riyadi (dalam Djaka Lodang, 5 Agustus 1989) memerinci sifat lagu dolanan jawa yaitu bersifat didaktis dan sosial. Didaktis artinya lagu dolanan itu mengandung unsur pendidikan, baik yang disampaikan secara langsung dalam lirik lagu atau disampaikan secara tersirat, dengan berbagai perumpamaan atau analogi. Salah satu keahlian orang Jawa adalah membuat berbagai ajaran dengan berbagai perumpamaan. Sosial artinya bahwa lagu dolanan memiliki potensi untuk menjalin hubungan sosial anak dan menumbuhkan sifat-sifat sosial.
Pada dasarnya lagu dolanan anak bersifat unik. Artinya, berbeda dengan bentuk lagu/tembang Jawa yang lain. Menurut Danandjaja (1985:19) lagu dolanan anak ada yang termasuk lisan Jawa, yaitu tergolong nyanyian rakyat. Sarwono dkk (1995: 5) menjelaskan bahwa lagu dolanan memiliki aturan, yaitu
1. bahasa sederhana,
2. cengkok sederhana,
3. jumlah baris terbatas,
4. berisi hal-hal yang selaras dengan keadaan anak.
Meskipun lirik lagu dolanan jawa sudah diganti dengan lirik makna PHBS dan indikator PHBS di lingkungan sekolah, namun lagu tersebut dapat digunakan untuk melestarikan lagu dolanan jawa yang saat ini kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah maupun instansi terkait. Selain itu, lirik yang diajarkan juga memiliki nilai pengetahuan mengenai PHBS secara jelas.
C. PERUMUSAN MASALAH
Bardasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam kegiatan ini adalah :
- Bagaimana cara meningkatkan derajat kesehatan melalui pembelajaran PHBS di lingkungan sekolah?
- Metode apa yang tepat digunakan dalam mengajarkan PHBS di lingkungan sekolah?
- Bagaimana cara mengatasi masalah tentang rendahnya pelaksanaan PHBS di lingkungan sekolah?
D. TUJUAN
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, maka kegiatan PKM-M ini memiliki tujuan sebagai berikut :
- Meningkatkan pengetahuan tentang PHBS serta meningkatkan derajat kesehatan di lingkungan sekolah menuju sekolah sehat.
- Terlaksananya pengembangan perilaku indikator PHBS di lingkungan sekolah.
- Tersedianya fasilitas penunjang indikator PHBS di lingkungan sekolah.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dalam penelitian ini yaitu:
- Pengeluaran CD lagu dolanan jawa mengenai PHBS yang diiringi musik acoustik gamelan modern dengan video klip yang disesuaikan dengan indikator PHBS di lingkungan sekolah.
- Penerbitan buku lagu dolanan Jawa yang syairnya telah dirubah menjadi syair tentang PHBS yang didesain dengan penampilan lirik dan not balok beserta gambar yang disesuaikan dengan indikator PHBS di lingkungan sekolah.
- Sertifikat bagi peserta yang telah lulus mengikuti pembelajaran.
F. KEGUNAAN
Kegunaan dari kegiatan PKM-M ini adalah :
- Dapat menjadi media pengenalan pendidikan PHBS untuk anak sekolah.
- Bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran anak sekolah mengenai PHBS sehingga kwalitas derajat kesehatan semakin meningkat.
- Dapat mewujudkan pelaksanaan indikator PHBS di lingkungan sekolah.
- Sebagai salah satu bentuk upaya pelestarian budaya jawa melalui pembelajaran media lagu dolanan jawa.
- Ikut berpartisipasi dalam rangka Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan untuk mendukung upaya peningkatan perilaku sehat ditetapkan visi nasional PromKes sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI. No. 1193/MENKES/SK/X/2004 yaitu “Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 2010” (PHBS 2010).
G. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
1. Kondisi Masyarakat Sasaran
SD Negeri Tambakboyo 03 yang terletak di pinggiran kabupaten Sukoharjo tepatnya di Desa Tambakboyo RT 03/III, Kal. Tambakboho, Kec Tawangsari, Kab Sukoharjo merupakan sekolah yang memiliki kelebihan dibidang kreatifatas mengolah barang-barang bekas. Sudah beberapa kali masuk koran karena menjuarai berbagai macam lomba sekolah kreatif. Kerena Visi dari SD tersebut adalah “Kreatif, Komptetitif, dan Unggul dalam prestasi berdasarkan iman dan taqwa “. Visi sekolah yang hanya mengunggulkan kreatifitas saja dirasa tidak cukup, karena kondisi kebersihan atau PHBS di sekolah kurang maksimal. Hal tersebut terjadi karena kondisi ekonomi dari orang tua siswa yang hanya bekerja sebagai buruh, sehingga fasilitas penunjang kebersihan atau PHBS di lingkungan sekolah tidak mencukupi. Berdasar hasil data yang kami kumpulkan menunjukkan bahwa sebanyak 99 % orang tua siswa bekerja sebagai buruh dan sisanya satu siswa yang orang tuanya bekerja sebagai Polisi. Faktor lain yang menyebabkan rendahnya PHBS di SD N Tambakboyo 03 adalah rendahnya pengetahuan PHBS di lingkungan sekolah, data tersebut kami dapatkan dari wawancara langsung dengan ibu Dra. Tri Hastuti beliau adalah Kepala Sekolah SD Negeri Tambakboyo 03. Saat kami bertanya “Apakah Ibu mengerti tentang PHBS di lingkungan Sekolah?”, beliau menjawab “Apa PHBS itu, saya kurang paham???”. Dari jawaban tersebut sudah terlihat bahwa pengetahuan tentang PHBS sangat minim, sehingga wajar saja kalau penanaman perilaku indikator PHBS di lingkungan sekolah tersebut kurang maksimal.
SD Negeri Tambakboyo 03 memiliki bangunan gedung yang sudah layak sebagai sekolahan meskipun tidak ada bangunan UKS secara tersendiri. Kondisi penghijauan sudah cukup karena berada di pinggiran desa, sehingga pepohonan masih banyak ditemui. Kondisi lain yang dapat dijelaskan diantaranya : ketersediaan tempat sampah di setiap ruangan meskipun hanya menggunakan ember plastik namun belum ada pemisahan atara sampah organik dan sampah anorganik; tersedian sebanyak 3 ruang untuk toilet meskipun keadaanya kurang maksimal karena kurangnya ventilasi udara sehingga toilet dalam keadaan lembab dan pengap; belum tersediannya tempat cuci tangan dengan air mengalir menggunakan sabun; ruang UKS juga belum tersedia sehingga penempatan orang sakit hanya di istirahatkan di mushola atau ruangan lainnya, UKS yang berpindah-pindah tempat dan pelayanan UKS yang hanya menyediakan tempat untuk orang sakit tanpa menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif yang didukung oleh upaya kuratif dan rehabilitatif yang berkualitas, padahal hal tersebut menjadi sangat penting dan strategis untuk mencapai derajat kesehatan yang maksimal. Selain itu, larangan merokok di lingkungan sekolah dan larangan jajan di sembarang tempat belum ada dan belum diterapkan di sekolah tersebut.
SD Negeri Tambakboyo 03 mempunyai jumlah sebanyak 69 siswa, dengan perincian, kelas I sebanyak 18 siswa, kelas II sebanyak 12 siswa, kelas III sebanyak 10 siswa, kelas IV sebanyak 10 siswa, kelas V sebanyak 12 siswa dan kelas VI sebanyak 7 siswa, dengan guru yang berjumlah 13 orang dan 7 orang guru yang sudah menjadi PNS. Berdasar hasil data yang kami kumpulkan dari siswa SD Negeri Tambakboyo 03, sejumlah 85 % anak-anak kurang sekali pengetahuan tentang perilaku hidup bersih dan sehat. Apalagi pembelajaran PHBS sejak dini tidak diajarkann dalam mata pelajaran IPA atau Olahraga. Ditambah dengan kurangnya perhatian khusus pada siswa oleh tenaga pengajar tentang bagaimana siswa berperilaku di luar kelas atau di luar jam belajar perihal bagaimana mereka jajan, membuang sampah, cuci tangan, dan perilaku hidup bersih dan sehat lainnya. Oleh karena itu banyak siswa yang sering sakit dan tidak masuk sekolah dikarenakan kurangnya penyuluhan, pengawasan dan pendidikan mengenai PHBS dari pihak sekolah ataupun dari pihak instansi kesehatan terkait.
2. Solusi yang ditawarkan
Atas dasar itu perlu adanya suatu gagasan untuk membantu memecahkan masalah tersebut, yaitu melalui sebuah proses pembelajaran PHBS yang praktis untuk diterapkan pada anak sekolah yang selanjutnya melaksanakan penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah. Upaya penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah harus dilaksanakan sebaik mungkin dan berusaha menyediakan beberapa fasilitas penunjang PHBS yang belum tersedia di lingkungan sekolah tersebut. Karena anak sekolah adalah anak usia bermain maka anak dirasa lebih mudah untuk diberikan pembelajaran PHBS melalui sebuah lagu dan permainan yang diajarkan di area outdoor agar siswa tidak jenuh untuk menerima pembelajaran tersebut. Media lagu yang digunakan ialah lagu dolanan jawa yang familiar dan dapat dengan mudah dihafalkan oleh anak-anak. Lirik lagu dolanan tersebut disajikan dalam bahasa jawa dan sebagian menggunakan bahasa Indonesia. Terdiri dari 9 lagu yang menunjukkan 9 indikator, adapun pada indikator 1 yaitu pengertian PHBS dan indikator lainnya menunjukkan 8 penerapan PHBS di lingkungan sekolah dan lagu-lagu tersebut kami kemas sebagai berikut :
1. Indikator I : Pengertian PHBS menggunakan lagu “Gambang Suling”.
PHBS iku singkatane
Tindak tanduk urip resik sehat
u…u..u..u..unine mung
Nerangake bab kesehatan…e
Kanggo urip ora gampang loro
2. Indikator II : Membuang sampah pada tempatnya menggunakan lagu “cublak-cublak suweng”.
Sampah-sampah reget,, regete di resiki,,
Ayo podo ngewaki,,Jo di buang ono kali,,
Dibuang nyang panggone,,
Yo ayo diresiki, yo ayo diresiki…
3. Indikator III : Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun menggunakan lagu “padhang bulan”.
Yo kanca tindakno karesikan,
Wijiko sakdurunge do mangan,
Nganggo sabun lan banyune resik,
Supaya awake ora kena lelara…
4. Indikator IV : Jangan jajan sembarangan menggunakan lagu “suwe ora jamu”.
Kanca do rungokno, aja waton jajan
kudu digatekke karesikane panggonan,
mula aja dumeh, padha seneng jajan,
banjur ora digagas awak lan kesehatane…
5. Indikator V : Olahraga teratur dan terukur menggunakan lagu “kidang talun”.
Olahraga, saben minggu, kanca,
Kang teratur, lan terukur,
Supaya kasarasane kejaga...
6. Indikator VI : Tidak merokok di area sekolah menggunakan lagu “gundhul-gundhul pacul”.
Yen kepingin sehat mas..
Ojo podho ngrokok.
Opo maneh papane sekolahan,
Akeh mala ing sak jeroning rokokan,
Ayo podho dijaga paru-parune..
7. Indikator VII : Memberantas jentik-jentik nyamuk satu minggu sekali menggunakan lagu “menthog-menthog”.
Kanca-kanca do mrenea, melu aku
Mbrantas sarang nyamuk,
Seminggu sepisan nguras bak mandine,
Nutup wadah banyu, mbuang barang bekas…
8. Indikator IX : Buang air kecil dan buang air besar di jamban yang bersih dan sehat menggunakan lagu “Jamuran”
Yo konco yo konco
Ojo nganti, buang hajat ono kali
WC kudu diresiki
Ojo nganti dijarke
9. Indikator X : Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan menggunakan lagu “jaranan”.
Konco kabeh ojo lali saben 6 wulan pisan,
Timbang bobot awake lan di ukur dhuwure;
Ben iso ngerteni tingkat pertumbuhane,
Jo lali, jo lali, yo konco ojo lali..
H. METODE PELAKSANAAN
1. Alur pelaksanaan kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan yaitu ada dua : tahap pertama pembelajaran PHBS dan tahapan kedua penerapan PHBS. Tahap pertama akan dilaksanakan pembelajaran 9 indikator dengan media lagu dolanan jawa yang liriknya sudah diganti. Pembelajaran PHBS dilaksanakan oleh pengajar beserta peserta didik kelas 4, kelas 5, dan 1 guru pembimbing. Pembelajaran pada usia dini kelas 4 dan 5 karena mereka dirasa mampu untuk mengajarkan PHBS pada siswa lainnya. Selain itu, bertujuan untuk memaksimalkan waktu proses pembelajaran PHBS. Setiap 1 indikator yang sudah selesai diajarkan maka akan ada evaluasi akhir dengan menghafal indikator 1 yang sudah dipelajari sebelumnya, indikator 2 akan ada evaluasi akhir tujuan dengan menghafal indikator 1 dan 2, indikator 3 akan ada evaluasi akhir dengan menghafal indikator 1, 2 dan 3 dan seterusnya. Bagi peserta didik yang belum lulus pada evaluasi akhir tiap indikator akan mengulang di pembelajaran berikutnya. Untuk pembelajaran terakhir dilaksanakan setelah pembelajaran indikator ke-9, yaitu dengan evaluasi random (evaluasi acak) pada peserta didik yang telah mengikuti pembelajaran seluruhnya. Pengajar akan memilih 9 peserta didik secara acak agar masing-masing peserta didik menghafal lagu dolanan dan menceritakan makna dari lagu yang sudah mereka hafalkan. Hal ini agar peserta didik tidak hanya hafal namun mereka juga mengerti maksud dari lagu dolanan PHBS tersebut. Setelah evaluasi random selesai maka pengajar akan memberikan sertifikat bagi peserta didik yang sudah lulus pembelajaran PHBS dengan media lagu dolanan Jawa.
Pengajar atau tutor akan memutarkan lagu dolanan PHBS dan menjelaskan makna dari lagu dolanan PHBS tersebut. Selanjutnya pengajar dan peseta didik bernyanyi bersama dengan gerak lincah permainan. Metode bermain sambil belajar bertujuan agar peserta didik tidak cepat bosan dan untuk mempermudah peserta didik menerima pembelajaran PHBS. Pembelajaran dilakukan di area outdoor pada jam ekstrakurikuler.
Setelah tahap pembelajaran selesai, maka dilaksanakan tahap selanjutnya yaitu penerapan PHBS. Pelaksanaan penerapan indikator PHBS dilakukan oleh semua pihak sekolah. Penerapan PHBS diantaranya : menempelkan pamflet tentang PHBS di tatanan sekolah, membersihkan sampah sekolah dengan pemisahan sampah organik dan anorganik, membiasakan cuci tangan sebelum dan sesudah beraktifitas dengan menggunakan air mengalir dan dengan menggunakan sabun, olahraga bersama-sama, menempelkan tulisan “area bebas rokok” dan tulisan “dilarang merokok” di setiap dinding utama, membersihkan kamar mandi dan pemberian abate pada bak kamar mandi dan tempat penampungan air lainnya, mengukur tinggi badan dan berat badan. Setiap pelaksanaan penerapan PHBS yang belum maksimal atau belum lulus akan diulangi lagi di pertemuan selanjunya sampai lulus. Indikator keberhasilan di ukur dari tingkat perubahan perilaku dan keadaan kebersihan lingkungan sekolah yang lebih baik dari sebelumnya dengan pembuktian foto. Jika tahapan telah selesai maka tim kami sebagai tutor akan memberikan kenang-kenangan pada sekolah tersebut. Berikut ini gambaran alur pelaksanaan pembelajaran dan penerapan PHBS di lingkungan sekolah :
2. Skenario proses pembelajaran bimbingan dan penerapan PHBS
Kegiatan Pembelajaran PHBS No Kegiatan Kegiatan Tutor Metode Waktu
- Pra Pembelajaran Mengabsen siswa 5 menit
- Pembukaan Menyampaikan tujuan bimbingan Ceramah 10 menit
- Kegiatan inti Membimbing siswa secara bertahap mengenai PHBS dan 8 indikator PHBS
- di lingkungan sekolah melalui media lagu dolanan Jawa. Memutarkan lagu dolanan PHBS dan menjelaskan makna dari lagu dolanan PHBS tersebut. Selanjutnya pengajar dan peseta didik bernyanyi bersama dengan gerak lincah permainan. 50 menit
- Evaluasi Memberikan tes kepada siswa. Tes menghafal lagu dolanan PHBS dan menceritakan makna dari lagu yang sudah di hafalkan. 15 menit
- Penutup Memberikan motivasi dan nasehat. Ceramah 10 menit
Kegiatan Penerapan PHBS No Kegiatan Kegiatan Tutor Metode Waktu
- Pra Penerapan Mengabsen siswa 5 menit
- Pembukaan Menyampaikan tujuan penerapan Ceramah 10 menit
- Kegiatan inti Pelaksanaan penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah yang dilakukan oleh semua pihak sekolah Menyesuaikan penerapan dengan indikator PHBS di lingkungan sekolah.60 menit
- Evaluasi Tes indikator keberhasilan di ukur dari tingkat perubahan perilaku dan keadaan kebersihan lingkungan sekolah Memotret hasil sebelum dan sesudah pelaksanaan penerapan PHBS. 15 menit
- Penutup Memberikan motivasi dan nasehat. Ceramah 10 menit
I. JADWAL KEGIATAN
Adapun jadwal kegiatan pembelajaran dan penerapan PHBS dapat dilihat dalam diagram Bar-Chart dibawah ini :
Kegiatan Bulan ke
Bulan 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan 5
1. Persiapan
2. Pelaksanaan Pembelajaran PHBS
a. Perkenalan
b. Indikator 1 & evaluasi 1
c. Indikator 2 & evaluasi 1, 2
d. Indikator 3 & evaluasi 1,2,3
e. Indikator 4 & evaluasi 1,2,3,4
f. Indikator 5 & evaluasi 1,2,3,4,5
g. Indikator 6 & evaluasi 1,2,3,4,5,6
h. Indikator 7 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7
i. Indikator 8 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7,8
j. Indikator 9 & evaluasi 1,2,3,4,5,6,7,8,9
k. Evaluasi Random & penyerahan sertifikat bagi siswa yang lulus evaluasi.
3. Penerapan PHBS
a. Penerapan indikator PHBS di lingkungan sekolah
b. Evaluasi keadaan lingkungan sekolah
c. Penyerahan kenang-kenangan pada pihak sekolah
4. Penyusunan Laporan
5. Seminar
6. Penggandaan dan Pengiriman Laporan
J. RANCANGAN BIAYA
Bahan Habis Pakai
No Jenis Kebutuhan Banyak Harga Satuan Jumlah
1 Konsumsi :
- - Siswa
- - Tutor
- - Pihak sekolah 30 orang x 24 pertemuan @ Rp. 5.000,00 Rp. 3.600.000,00
2 Cetak buku/modul
- - Seluruh siswa
- - Tutor
- - Pihak sekolah @ 1 buah 15 halaman x 127 eksemplar @ Rp. 1.000,00 Rp. 1.905.000,00
3 CD lagu dolanan jawa mengenai PHBS 1 buah @ Rp. 10.000,00 Rp. 10.000,00
4 Penggandaaan CD lagu dolanan jawa
- - Seluruh siswa
- - Tutor
- - Pihak sekolah @ 1 buah x 127 orang @ Rp. 5.000,00 Rp. 635.000,00
5 Pembuatan surat keterangan belajar (sertifikat kelulusan) @ 1 buah x 20 siswa @ Rp. 10.000,00 Rp. 200.000,00
6 Vandel 1 buah @ Rp. 60.000,00 Rp. 60.000,00
Jumlah Rp. 6.410.000,00
Peralatan Penunjang PKM-M
No Jenis Kebutuhan Banyak Harga Satuan Jumlah
1. Sewa Kamera Rp. 200.000,00
2. Sewa Handycam Rp. 500.000,00
Jumlah Rp. 700.000,00
Perjalanan
Macam Perjalanan Keperluan Jumlah Orang Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
Lokal Sukoharjo Persiapan 3 orang 3 kali Rp. 20.000,00 Rp. 180.000,00
Pelaksanaan bimbingan 3 orang 24 kali Rp. 20.000,00 Rp. 1.440.000,00
Jumlah Rp. 1.620.000,00
Lain-lain
No Jenis Kegiatan Satuan Harga Satuan Jumlah Harga
1. Pembuatan laporan 15 eksemplar Rp. 30.000,00 Rp. 450.000,00
2. Rapat/diskusi 5 kali Rp. 40.000,00 Rp. 200.000,00
3. Seminar 1 kali Rp. 350.000,00
4. Publikasi 1 judul Rp. 250.000,00 Rp. 250.000,00
Jumlah Rp. 1.250.000,00
Rekapitulasi Rincian Biaya Penelitian :
1. Bahan Habis Pakai Rp. 6.410.000,00
2. Peralatan Penunjang PKM-M Rp. 700.000,00
3. Perjalanan Rp. 1.620.000,00
4. Lain-lain Rp. 1.250.000,00 +
Total Rp. 9.980.000,00
Total biaya yaitu Sembilan juta sembilan ratus delapan puluh ribu rupiah.
Contoh PKM Kemasyarakatan lolos DIKTI Mengenai PHBS
Reviewed by Alvonzo
on
9:56 PM
Rating:
Reviewed by Alvonzo
on
9:56 PM
Rating:

No comments: